Sampai saat ini, nihil Perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki fakultas ilmu komunikasi, atau jurusan ilmu komunikasi, umumnya memiliki jurusan/program studi/bidang kajian/konsentrasi/peminatan Public Relations atau hubungan masyarakat (HUMAS). Begitu juga dengan Universitas tempat saya belajar dimana ilmu komunikasi hanya merupakan konsentrasi bukan fakultas.
Meskipun begitu, kita semua tahu Jurusan PR sekarang ini tetap eksis karena tuntutan spesialisasi dari Ilmu Komunikasi, yang juga dikenal sebagai ilmu maupun profesi. Tentu saja itu bersamaan dengan kesadaran masyarakat pengguna yang semakin merasakan pentingnya peranan profesi ini, baik lulusan diploma tiga maupun strata satu.
Perlu kita tahu juga, perkembangan pendidikan tinggi PR di Negara maju seperti Eropa, dan Amerika, sudah terlebih dahulu memprogramkan ini, bahkan mereka juga membuka sampai tingkat S2 (master/megister) dan S3 (Doktor).
Kompetensi (keahlian) sarjana lulusan jurusan Ilmu Humas, antara lain kemampuan berkomunikasi, mengorganisasikan, berhubungan dengan orang lain, memiliki kepribadian yang utuh, banyak ide dan kreatif. Contohnya pada kompetensi pada posisi manajerial Humas, (Asking, Telling, Listening, Understanding), yakni mampu menggali, hingga menyampaikan informasi, memerima masukan informasi, dan mampu membangun pengertian. Itu diperlukan juga keahlian ekstra, dalam hal ini harus bisa update dengan perkembangan informasi, termasuk perkembangan teknologi komunikasi, komputer, internet, mampu merancang dan mengelola media penerbitan Humas dalam bentuk cetak, elektronik dan media online (internet dan intranet), analisisi khalayak termasuk program-program kegiatan humas.
Mengenai lapangan kerja profesi Humas (Public Relations), hampir setiap perusahaan swasta, BUMN, organisasi non profit (nirlaba) terdapat departemen/bagian/divisi Humas di dalamnya. Di era kompetisi ini para masyarakat pengguna ini sangat memerlukan kehadiran profesi PR sebagai jembatan komunikasi antara perusahaan/organisasi dengan public, sehingga timbul saling pengertian antara keduanya.
Masyarakat pengguna (perusahaan) lulusan PR dibidang penyiaran, terdapat satu stasiun televisi pemerintah, dan beberapa televisi swasta. Begitu pun perusahaan di bidang produksi dan biro iklan terdorong oleh perkembangan industri . Bidang penerbitan dan bidang jasa konsultan, tidak lepas dengan peran divisi PR. Bahkan kalangan masyarakat profesi telah mengakui bahwa bidang PR telah menempati posisi penting bagi institusi bisnis, semi bisnis, non bisnis, seperti lembaga pemerintah dan masyarakat.
Mengakhiri tulisan ini, penulis ingin memberikan saran kepada sesama calon insan PR atau mereka yang ingin menggeluti dunia PR sebagai akademisi atau praktisi (profesi)
- Pertama, mulailah tanamkan kemauan keras untuk menjalani bidang PR ini.
- Kedua, mari kita nikmati dunia PR yang kita masuki.
- Ketiga, totallah dalam diri kita masing-masing ketika memasuki dunia ini, jangan setengah setengah.
- Keempat, fanatiklah terhadap ilmu dan profesi anda, sehingga dapat bereaksi lebih banyak dalam ilmu atau profesi.
- Kelima, tingkatkanlah terus pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan anda dengan membaca buku, ikut seminar, berdiskusi dan menulis, sehingga kita semua bisa menjadi orang yang berwawasan luas.
I,You,We just “Proud to be in PR”.